
Partner to Share the Pain with
-----------------------------------------------------------------------------------------------
saya melihat. saya memperhatikan. saya merasakan. dan saya menulisnya! saya ingin berbagi dunia kepada semua melalui perspektif saya. mau?
Resensi
Film berdurasi 96an menit ini menceritakan tentang seorang fotografer bernama James Nachwey yang telah mengabadikan momen-momen berbahaya selama berpuluh-puluh tahun. Ia membidik gambaran-gambaran seputar kekerasan dah kericuhan di berbagai tempat di seluruh dunia. Di antaranya perang di Palestina, Kosovo, hingga Afrika. Termasuk Indonesia juga ia abadikan. Saat itu di Indonesia terjadi kekacauan dalam masa plengsernya Suharto dan pemilu di tahun 1999. Film karya Christian Frei ini memperlihatkan sedikit tanda tanya tentang pergulatan hati sang fotografer sendiri dalam melihat segala peristiwa tersebut. Sudut pandang kamera sendiri lebih banyak terlihat dari arahan mata kamera James Nachwey. Bagaimana sebuah perang dan konflik bisa menghadirkan penderitaan yang sangat mengerikan seperti itu dan bagaimana sebuah perjuangan seorang fotografer dalam usahanya menangkap berbagai momen tersebut.
Analisis
Dalam mengabadikan sebuah momen perang membutuhkan sebuah keberanian yang kuat dan jiwa yang pantang menyerah. Terkadang terjadi konflik batin disini. Dimana saat sang fotografer harus membidik kepedihan korban peperangan, namun korban tersebut sekarat dan butuh bantuan. Disinilah rasa idealis seorang jurnalis akan diuji.
Sekadar menyebut dengan jelas bahwa wartawan wajib mencari kebenaran tidaklah cukup. Dan komitmen ini membentuk elemen jurnalisme kedua, yaituu loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga. Kesetiaan kepada warga ini adalah makna dari yang kita sebut independensi jurnalistik. Tetap saja pemikiran bahwa wartawan melayani warga sebagai prioritas pertma tetap dipercaya oleh wartawan, walaupun hasil yang didapatkan bisa saja membuat masyarakat marah atau malah berpikir kritis. Komitmen terhadap warga lebih besar ketimbang egoisme professional. Berkembangnya masa semakin membuat banyak wartawan melampaui batas dari skepstisisme menuju sinisisme, atau bahkan nihilisme. (Kovach,2001:62)
Dari pandangan 9 elemen jurnalisme aja sudah tergambarkan dengna jelas. Seperti yang terjadi dengan tokoh utama film ini, dimana ia berusaha menampilkan keadaan dan dampak dari sebuah peperangan kepada warga tetapi banyak yang menuduhnya mengeksploitasi korban untuk kepentingan berita dan hasil karya. Ini lah sikap kritis yang hadir dalam diri warga dibalik usaha seorang jurnalis dalam mengungkap dan menampilkan fakta yang sebenarnya.
Wartawan yang bingung tentang loyalitas mereka akan selalu mendapatkan konsekuensi yang nyata. Wartawan suka menganggap diri mereka sebagai pengganti warga, meliput apa yang terjadi dalam kehidupan warga untuk kepentingan publik. Namun pubik semakin tak mempercayai mereka. Apapun pendekatan yang diambil media , masalah loyalitas ini sangat penting.
Bisa dibilang ini adalah suatu resiko pekerjaan. Pro kontra sebuah fenomena. Namun sisi manusiawi kita pastilah akan bekerja, tidak mungkin kita akan membiarkan objek foto tersebut mati perlahan-laha di depan kita. Setelah sesi foto sekian detik selesai, kita bisa dengan tangkas menolongnya. Ini hanyalah permasalahan pengendalian diri. Profesionalitas seorang fotografer tidak berarti saat nilai-nilai kemanusiaan harus diutamakan
REVOLUTION WILL BE NOT TELEVISED.
Resensi
Film produksi Irlandia pada tahun 2003 ini disutradarai oleh Kim Bartley. Film ini dimulai dengan pernyataan Victor Ramirez Perez, yang mengatakan bahwa ia mempunyai senjata terkuat di dunia yaitu media., lalu terjadilah kudeta media pertama di dunia.
Bartley melihat sebuah fenomena yang terjadi pada diri seorang Chavez yang terkena rekayasa media di Venezuela. Ia di fitnah menjadi penanggung jawa atass penembakan masa yang kontra dengan dirinya. Lalu ia diberhentikan dan disekap oleh orang-orang oposisinya. Hugo Chavez pun di jatuhkan dengan kudeta politik yang dilakukan oleh rivalnya dengan bantuan media tersebut. Banyak berita-berita bohong yang direkayasa untuk memfitnahnya.
Disini juga sempat diperlihatkan kedekatan Chavez dengan Fidel castro yang mmebuat marah kaum oposisinya dan Amerika. Tetapi Chavez tetap yakin dan membela hak-hak rakyatnya seperti dalam konstitusi Bolvar pada tahun 1999. Cahvez juga berupaya agar rakyatnya dapat langsung melihat pergerakan pemerintahannya dengan sebuah saluran tv milik pemerintah yang bernama Channel 8. Merasa masih kurang dukungan Chavez pun merambah ke media radio dan televisi yang bisa membuat rakyatnya kembali percaya dan yakin pada pemerintah.
Dalam waktu 48 jam Chavez mampu kembali merebut kekuasaanya yang didukung penuh oleh rakyat miskin yang mendukungnya. Sedangkan kaum oposisi tersebut akhirnya hancur dan terjadi demonstrasi yang dilakukan oleh pendukung Chavez. Mereka bangkit dan membela hak-hak mereka yang telah dinodai kaum oposisi dan Amerika Serikat.
Analisis
Film berdurasi 74 menit ini, sangat mengahrukan sekali karena pada film ini sangat terlihat dengan jelas bagaimana dukungan rakyat mendapat sambutan dan tambahan kekuatan dari mayoritas tentara yang tidak mau dibeli oleh kaum oposisi dan AS. Mereka akhirnya menyadari bahwa hak mereka telah direnggut dan dilecehkan oleh kaum oposisi tersebut.
Mereka berjuang keras mengembalikan pemerintahan Chavez dan membela hak-hak yanng telah menjadi kewnangan mereka di negaranya sendiri. Ekploitasi media di sini sangatlah ridak memiliki prinsip-prinsip jurnalistik yang seharusnya objektif dan berbicara mengenai fakta bukan rekayasa bahkan hal-hal yang ditujukan untuk menjatuhkan seseorang.
Jurnalisme hadir untuk membangun masyarakat. Jurnalisme hadir untuk mmenuhi hak warga negara. Jurnalisme ada untuk demokrasi. Tujuan utama jurnalisme adalah untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan warga agar mereka bisa hidup bebas dan mengatur diri sendiri. (Kovach, 2001:12)
Kode etik dan pernyataan misi jurnalisme menghasilkan kesaksian yang sama. Tujuannya “untuk melayani kesejahteraan umum dengan menginformasikan berita kepada orang-orang.” Mendefinisikan jurnalisme hanya akan membuat tertahan terhadap perubahan waktu. Manusia membutuhkan berita karena kesadaran naluri mereka. Itulah yang kita katakan sebagai naluri kesadaran. Saling tukar informasi ini menjadi dasar untuk menciptakan komunitas, membuat ikatan antar manusia. Kode etik dan pernyataan misi jurnalisme juga menyatakan tujuan yang sama yaitu untuk melayani kesejahteraan umum dengan memberi informasi kepada orang-orang.
Adalah suatu kesalahan besar dengan membuat media yang berpihak dan tidak mengutamakan kepentingan masyarakat hanya untuk mengedepankan misi golongan seperti yang terjadi di Venezuela tersebut.
Wartawan tidak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik, tetapi justru membantu masyarakat mengerti secara runut apa yang seharusnya mereka ketahui. Tugas media berita adalah memberikan publik, apa yang mereka perlukan untuk menemukan kebenaran bagi diri mereka sendiri.Namun, pemahaman yang lebih kompleks terhadap publik ini juga membawa bersamanya sebuah tuduhan terhadap pers modern. (Kovach,2001:23) ini membuat sebuah pengertian pasti akan kewajiban media membela kebenaran dan membuat rakyat mengerti apa yang terjadi bukan malah menyesatkan mereka ke arah yang berlawanan dengan kenyataan.
Namun apa yang sudah ditunjukkan oleh Rakyat Venezuela dan sikap obyektif dari pembuat film dokumenter ini menunjukkan kenyataan bahwa dominasi kekuasaan korporasi media yang anti rakyat dapat ditundukkan dengan kekuatan mobilisasi rakyat. Jadi atas dasar kemauan untuk berubah kebenaran pasti bisa ditegakkan.
Siti Hikmawatty (ketua KPPI Pusat) :
Indonesia Masih Menganut Sistem Patriarki
Rendahnya partisipasi perempuan dalam politik , terutama keterwakilan dalam DPR/DPRD yang banyak dikeluhkan selama ini, dinilai sebagai kesalahan perempuan itu sendiri. Perempaun enggan berpartisipasi dalam politik karena menganggap politik itu kotor hingga memutuskan tak ingin sama sekali menyentuh atau bahkan menceburkan diri dalam duni politik. Jika tak ada perempuan-perempuan yang berpihak kepada kepentingan perempuan dalam pengambilan kebijakan, jagan harap produk hukum yang akan dihasilkan juga bersahabat kepada perempuan atau kelompok minoritas lainnya. (Tribun Jabar,29-12-08)
Namun ada yang berbeda dalam pemilihan anggota legislatif saat ini. Sebuah affirmative action dilakukan dalam rangka untuk memunculkan kembali para perempuan dalam kancah politik Indonesia. Kuota 30% sudah ditetapkan sebagai syarat jumlah minimal caleg perempuan yang diikut sertakan. Begitu juga dengan keputusan yang dinamakan zipper system dimana dalam setiap 3 caleg harus diselipkan minimal satu caleg perempuan. Proses pemilihan pun sudah tidak menggunakan sistem nomor urut lagi, melainkan menggunakan sistem suara terbanyak, yang mengakibatkan sebuah pasar bebas dalam pemilihannya.
Ini merupakan sebuah fenomena yang menarik. Mengapa setelah sekian lama, baru saat ini kuota tersebut baru diwajibkan? Mengapa para wanita tersebut hanya mendapatkan kesempatan sekitar 30% saja? Mengapa selama ini perempuan dalam dunia politik kita terkesan kurang vokal daripada para laki-laki? Sebenarnya kemana saja mereka selama ini? Lalu apakah fungsi dari para wanita ini dalam lembaga DPR RI nanti?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Puti Anggunsari mewawancarai Siti Hikmawaty,S.ST. Seorang calon legislatif perempuan untuk DPR RI dengan daerah pemilihan Jawa Barat I. Wanita yang bernaung di bawah bendera PAN ini sudah memulai karir dalam bidang politiknya sejak tahun 2000. Selain menjadi caleg, ia pun seorang ahli gizi dan menjadi ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Pusat periode 2008-2011. Selain itu ia juga seorang dosen jurusan Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta dan mengampu berbagai macam mata kuliah di sana.
Tidak hanya sampai di situ, wanita kelahiran 17 Oktober 1970 ini juga menjadi ketua Badan Komisi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (DPP BKPR MI). Ia tercatat sebagai lulusan strata satu jurusan Gizi Klinik Universitas Indonesia dan sedang mengambil program pascasarjana dengan Kajian Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta. Berikut petikan wawancara yang dilakukan di foodcourt RS Hermina yang bertempat di jalan Jl. Dr. Djunjunan 107 Pasteur, hari Minggu 14 Desember 2008 yang dimulai pada pukul 16.30 WIB hingga selesai :
Awal mula karir Anda sebelum jadi caleg apa?
Aktivitas saya sebelum bergelut di bidang politik ini, tidak banyak berubah ya. Hingga sekarang saya masih seorang ahli gizi. Mungkin dulu jam praktek saya lebih banyak dari pada sekarang, selain itu saya juga menjadi dosen di Universitas Negeri Jakarta jurusan Pendidikan Anak Usia Dini, dengan berbagai macam mata kuliah. Saya juga konsultan tumbuh kembang anak yang praktek bergilir di klinik-klinik Jakarta. Pernah juga menjadi konsultan gizi di rumah sakit Al-Islam Bandung dari tahun 1993 hingga tahun 2000. Dan pernah menjadi konsultan gizi atlet untuk Seagames ke-18 di Chiangmai pada tahun 1996. Terakhir saya masih menjadi seorang guru TK di Jakarta.
Sudah pernah menjadi caleg sebelumnya?
Sudah, ini adalah kedua kalinya saya menjadi calon legislatif untuk DPR RI. Sebelumnya, saya memang tidak berambisi besar untuk dapat terpilih karena saat itu saya mendapatkan nomor urut 4. Dan saya lebih banyak menggunakan kesempatan itu untuk belajar dan mengerti lebih dalam lagi tentang sistematika dari pemilihan tersebut.
Sejak kapan Anda berkecimpung dalam bidang ini?
Benar-benar turun dan terdaftar resmi dengan surat kepurusan pemerintah itu, mulai tahun 2000. Tetapi untuk aktif dan giat dalam kegiatan politik sendiri, saya sudah mulai dari bangku kuliah.
Sejak kapan Anda tertarik dengan bidang politik memangnya?
Sejak SD, saat itu sebenarnya kakak perempuan sayalah yang sangat senang dengan politik. Ia mempunyai banyak sekali buku-buku berbau politik. Jadi dari sanalah saya mulai mengetahui dan tertarik dengan politik itu.
Mengapa Anda memilih PAN?
Sebelum memilih PAN, saya sudah aktif di Muhamaddiyah, dan kebetulan Muhammadiyah sangat dekat dengan PAN, sehingga lebih memudahkan jika saya masuk ke dalam PAN dibanding partai lain. Jadi kesempatan saya lebih terbuka lebar di PAN.
Apakah Anda sudah pernah mendapatkan pendidikan politik sebelumnya?
Secara resmi tidak ya. Tapi kan saya banyak membaca buku dan aktif berorganisasi di bidang politik. Setiap caleg juga mengalami masa pengkaderisasi, disana kita juga dibantu untuk dikenalkan tentang politik itu sendiri.
Motivasi / perjuangan politik Anda apa?
Salah satunya memperjuangkan kepentingan perempuan. Intinya bisa membawa perubahan yang lebih baik untuk bangsa dalam bidang yang bisa saya perjuangkan.
Hal yang melatarbelakangi hal tersebut apa?
Pertama latar belakang pendidikan ya, profesi saya. Sehingga saya merasa seseorang yang memahami dunia itu mungkin akan memberikan masukan yang lebih baik daripada orang-orang yang tidak faham dunia itu, seperti saya lebih fokus dalam bidang gizi dan pendidikan. Yang kedua saya kebetulan mendapatkan amanah dari partai untuk masuk dalam bursa ini, karena tidak semua orang bisa mendapatkan amanat partai seperti ini dan ditempatkan pada posisi strategis.
Mengapa Anda mau membawa perubahan yang lebih baik untuk kaum wanita? Memangnya keadaan wanita sekarang seperti apa dalam kaca mata Anda?
Yaa suka atau tidak, mau atau tidak, kaum wanita Indonesia masih termarginalkan baik dari sisi budaya, kebijakan-kebijakan politik, hukum, maupun dalam banyak hal lain. Jadi harus ada yang membawa perubahan yang lebih baik, agar kaum perempuan tersebut lepas dari marginalisasi itu tadi.
Indikator perubahan yang lebih baik itu apa? Baik kan sangat relatif.
Iya. Salah satu indikatornya dalam tercapainya 30% kuota perempuan dalam badan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Dalam hal undang-undang yang diproduksi, indikatornya adalah mulai mempertimbangkan adanya keberpihakan gender. Penentuan kebijakan publik misalnya tersedia gender budgeting untuk perempuan. Selama ini karena penentu kebijakan kebanyakan laki-laki, sehingga mereka seringkali berpikir dengan kaca mata laki-laki, misalnya dalam pembuatan kereta api, mereka hanya berpikir untuk membuat sekian gerbong tanpa ada pertimbangnan khusus. Kalau perempuan pasti berpikir lebih jauh, bagaimana jika ada ibu hamil atau menyusui, maka akan ditambahkan sebuah gerbong khusus. Lalu untuk konstruksi kereta sendiri, jika tidak ada tangga, kita mesti loncatkan untuk masuk, nah dalam kebijakan tersebut tangga tersebut agak direndahkan dan lain lain lah. Nah mungkin itu adalah salah satu bentuk keberpihakan terhadap perempuan, jadi ada pertimbangan fisiknya, juga pertimbangan pendekatan pada masa sosialisasi.
Bagaimana penilaian Anda tentang keberadaan perempuan dalam kancah dunia politik?
Ya masih perlu didukung! Artinya perkembangannya belum begitu signifikan ya.
Namun apakah sudah ada kemajuan? Seperti kita lihat Menteri Kesehatan kita, Siti Fadillah, terlihat cukup vokal dengan aksi-aksinya selama ini. Beliau juga membuat prigram-program interaktif di televisi nasional. Tanggapan Anda?
Betul, beliau memang perempuan tetapi mayoritas Dirjennya masih laki-laki. Sehingga pada pengambilan keputusan ya otomatis pemikiran laki-laki tersebut masuk kembali. Jadi katakanlah jika ada enam Dirjen minimal dua Dirjen harus perempuan. Artinya mudah-mudahan karena mereka sama-sama perempuan, dia memiliki kepekaan terhadap masalah-masalah perempuan. Walaupun bukan jaminan ya, kalau dia perempuan dia juga akan berpikir tentang masalh perempuan tersebut.
Bagaimana kinerja para anggota legislatif perempuan di DPR terkait isu perjuangan wanita?
Sifatnya mereka masih individual walaupun sekarang di dalam partai kita ada Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) dan di parlemen juga ada Kaukus Perempuan Parlemen Indonesia, tetapi perjuangannya masih parsial. Kalau ada butir-butir pasal yang menyangkut soal perempuan, mereka mencoba bersatu. Ini akan lebih baik jika para perempuan tersbut mereka tidak hanya menyikapi undang-undang yang ada tapi antisipasi terhadap undang-undang mana yang butuh pendekatan gender. Kalau sekarang kan mereka cenderung baru menyikapi saat undang-undang yang terhadi bias gender saat undang-undang tersebut sudah jadi. Kalau antisipasi kan dikira sebelumnya misalnya akan keluar 1000 undang-undang, nah mulai dibentuklah tim kajian yang dimana undang-undang mana yang harus didampingi. Tapi kinerja para anggota legislatif perempuan di DPR sekarang dibandingkan pada tahun 1004 sudah cukup baik ya. Salah satunya kalu dahulu mereka kebanyakan hanya memperhatikan,bayangkan tentang kata memperhatikan itu kan sama sekali tidak mempunyai kekuatan hukum. Kalau sekarang ini kan partai politik sudah wajib memasukkan 30% wanita dalam kepengurusan dan dari 3 caleg satu perempuan.
Anda berencana memasuki komisi apa?
Antara pendidikan, kesehatan atau pangan.
Alasannya?
Ya karena bidang itulah yang saya geluti. Jadi setidaknya saya sudah mempunyai fondasi yang cukup kuat di bidang tersebut, kalaupun perlu ada penambahan materi saya hanya perlu menyesuaikan sedikit.
Itu ditentukan sendiri atau dari partai?
Dua-duanya. Jadi kalau misalnya masih kosong, kita bisa mengajukan, tapi kalau terlalu banyak di komisi tersebut, partai akan melakukan pertimbangan dan mungkin kita akan dibagi atau dipindahkan ke komisi yang lain.
Dengan segala tanggung jawab dan kewajiban yang harus Anda lakukan, apakah Anda mendapat hambatan dari orang-orang terdekat atau keluarga?
Ummm sebenarnya suami saya malah menganjurkan saya untuk masuk partai. Itulah bagian dari komitmen yang bisa kita bicarakan dengan suami. Komitmen itu sudah saya bicarakan dari sebelum menikah. Alhamdulilah, beliau mengikhlaskan saya untuk berpisah sementara.
Apakah suami Anda juga berkecimpung dalam bidang politik?
Oh tidak.
Bagaimana dengan anak-anak Anda sendiri? Bagaimana menjalankan peran politikus wanita yang super sibuk dengan kewajiban menjadi seorang ibu?
Nah itulah salah satu dilema yang dihadapi seorang wanita yang terjun dalam bidang politik. Masa atau jam kerja kami tidak seperti jam kantor yang eight to five ya. Rapat dan keputusan bisa dilakukan kapan saja, bahkan tengah malam. Saya mempunyai empat orang anak, yang dari mereka kecil sudah saya biasakan untuk lebih mandiri dan struggle. Misalnya anak saya yang kedua dari dia bayi sudah saya bawa kemana-mana. Kebetulan banyak juga rekan-rekan saya yang seorang ibu muda, jadi tidak terlalu sulit untuk mengurusnya. Dengan saya perkenalkan pada sistematika dunia kerja saya, dia pelan-pelan mulai mengerti. Dan secara tidak sadar itu juga terbawa pada psikologisnya, dia sekarang sudah masuk SD dan saya lihat lebih mandiri, lebih berani tampil di depan orang banyak, dan sejauh ini anak-anak saya mengerti tuntutan pekerjaan saya. Disaat-saat yang memungkinkan saya untuk membawa mereka, saya pasti mengajak mereka.
Mengenai undang-undang pemilu, apa tanggapan ibu mengenai Zipper System?
Menurut saya sistem ini sudah cukup bagus. 30% ini saya nilai sudah cukup signifikan untuk memberikan kekuatan pada perempuan. Dimana dalam sepuluh orang apabila tiga mengatakan tidak, akan cukup menjadi sebuah pertimbangan ya. Walaupun kadang-kadang di beberapa pengurus KPU daerah salah mengartikan. Disebutkan perempuan harus masuk minimal 1 dari 3 calon, akhirnya mereka hanya memasukkan saru wanita dari 3 kandidat tersebut padahal boleh saja urutan kesatu dan kedua diisi oleh perempuan ketiga baru laki-laki. Jadi rata-rata perempuan ada di urutan ketiga terus. Lagipula sistem zipper ini akan sangat berguna jika pemilihannya memakai nomor urut, sedangkan sekarang kan sistem suara terbanyak jadi berlaku pasar bebas. Padahal pada sistem pasar bebas ini, perempuan belum cukup sehandal laki-laki karena start perempuan lebih lama juga cenderung tidak memiliki dana juga tingkat keberanian perempuan tidak seberani laki-laki.
Partai Anda menggunakan nomor urut ataukah suara terbanyak?
Suara terbanyak. Nomor urut hanya diperlukan untuk memperjelas urutan saja. Tapi prioritas tetap ada, bila ada persamaan jumlah suara. Jadi previlege masih ada, tapi dicoba di minimalisir oleh partai.
Bagaimana sebenarnya sistematika pengurutan calon tersebut?
Kebijakan partai.
Dilihat dari apa?
Biasanya dari pengabdia dia terhadap partai. Seperti dulu ada Derajat Wibowo di PAN, dari 100% itu ketua umum punya hak prerogratif untuk menentukan sekian persen untuk pertimbangan politis. Apakah itu artis, ilmuwan atau apapun dari luar partai.
Menurut Anda manakah yang lebih baik? No urut atau voting suara? Lebih baik apakah berarti lebih efektif?
Kalau saya nomor urut satu saya memilih sistim nomor urut (tertawa). Sebenarnya kalau dari sistem nomor urut kita lebih terjamin ya tapi kalau dapat nomor bagus, kalau tidak dapat nomor bagus sedangkan kita merasa mempunyai pendukung yang banyak, ya lebih baik suara terbanyak. Dengan dimunculkan suara terbanyak, semua kader akan bekerja lebih optimal, sedangkan nomor urut, mereka paliong berasumsi bahwa mereka bekerja paling hanya untuk nomor satu. Tapi semua mempunyai kelebihan dan kekurangan, sistem suara terbanyak pun belum dapat kita nilai, karena kita belum tahu berhasil atau tidak. Jadi kita lihatlah dulu nanti hasilnya seperti apa. Tapi semoga dengan ada perubahan ini saja, merupakan langkah untuk menuju yang lebih baik dong. Walaupun berdasarkan analisa kajian-kajian ilmiah bahwa peluang calon wanita menang dengan sistem suara terbanyak itu malah lebih kecil. Nanti siapa yang kuat akan menang.
Memangnya selemah itukah kekuatan politik caleg perempuan hingga bisa diprediksi kalah daripada laki-laki?
Karena mereka kebanyakan di rekrut dalam keadaan kepepet. Mereka tidak diberikan kaderisasi, dan para laki-laki juga pada takut mengambil wanita-wanita yang berkualitas, karena mereka juga ingin masuk. Jadi masih ada ego di dalamnya.
Sebenarnya apakah tujuan kuota 30% wanita di kursi DPR ini? Mengapa tidak 50% atau lebih?
30 persen itu merupakan angka kritis untuk mampu mempengaruhi suatu keputusan. 30% itu kan masih minimal, tetapi minimal itu aja kita belum bisa capai, sekarang saja masih hanya sekitar 11% yang terdaftar.
Sebenarnya ada tidak sih usaha untuk meningkatkan kualitas para calon legislatif perempuan?
Oh banyak! Salah satunya adalah Puskapol UI ya. Puskapol UI itu mengundang empat caleg dari tujuh partai untuk mereka didik dan diberikan penguatan dalam bidang politik supaya mereka menjadi caleg yang lebih ‘jadi’. Dengan berbagai penguatan wawasan, dan mereka juga dibantu dicarikan penguatan dana. Karena perempuan itu lebih terbatas ya pendanaannya karena dia bukan pencari nafkah.
Apa pendapat Anda mengenai politik uang pada tata cara nomor urut caleg?
Pasti ada. Tapi itu kan tidak terbuka ya, dan tidak pernah ada bukti. Jadi itu rahasia umum, jadi umum mengetahui tapi rahasia. Sejauh ini belum bisa dibuktikan. Hal itu kan mereka tau sama tau ya.
Untuk daerah pemilihan sendiri, darimana Anda mendapatkan jaringan disana? Setahu saya Anda tinggal di Bekasi bukan?
Pertama saya aktif di organisasi. Jadi kita me-link jaringan organisasi tersebut. Seperti saya adalah bagian dari KPPI pusat, jadi kita me-link KPPI Jabar. Kedua sanak keluarga, ketiga saya memang besar di Bandung. Jadi kita setidaknya harus mengumpulkan 274.000 pendukung untuk satu kursi. Jadi jumlah penduduk dibagi alokasi kursi yang tersedia dan itu tidak termasuk golput ya. 7 kursi inilah yang diperebutkan oleh 38 partai tersebut. Ya nanti saya akan tinggal di Kalibata dong kalau terpilih. Lagipula untuk mewakili suatu wilayah tidak mesti kita memelototi jalanan di sana kan.
Untuk para saingan sendiri pada dapil 1, penilaian Anda tentang mereka apa?
Dapil 1 itu termasuk dapil bergengsi ya. Menurut saya saingannya cukup berkualitas semuanya, jadi kalau bisa menang merupakan kebanggaan tersendiri.
Apakah Anda mempunyai strategi politik khusus?
Ada tapi belum dipublikasikan kecuali kalau nanti berhasil. Tapi intinya kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas. Kegagalan kampanye itu kebanyakan terjadi karena tiga hal. Pertama, kampanye itu tidak punya misi yang jelas. Mereka hanya menemukan konstituen dan menjual apa saja yang mereka bisa katakan pada saat itu. Saya sebisa mungkin kampanye dan mengetahui segmentasinya. Saya mempunyai sembilan misi, tapi saat menemui Walhi, ya misi tentang lingkungan yang lebih saya tekankan, karena kalu yang tidak menyangkut mereka, mereka tidak akan terlalu peduli ya.
Saya pernah mendengar plesetan bahwa PAN adalah singkatan dari Partai Artis Nasional. Bagaimana pendapat Anda tentang banyaknya artis yang bernaung dibawah bendera PAN?
Tadi saya udah cerita, ada sekian persen yang menjadi hak prerogratif ketua. Salah satu nya itu yang dipakai oleh Pak Soetrisno Bachir. Yang kedua artis itu di posisikan sebagai foodgetter, jadi mereka ditempatkan pada tempat atau daerah yang basis PANnya kurang kuat atau keras. Dimana mereka harus membangun sistem di sana. Kalau di Bandung basis PAN sudah cukup kuat jadi peran artis tidak terlalu dibutuhkan.
Apakah artis tersebut diundang atau mereka yang berminat?
Bisa dua-duanya, mereka dilamar oleh partai dan bisa juga meraka yang berminat.
Apakah mereka cukup qualified dan memang mempunyai karakter yang sangat kuat untuk ikut bertarung di bidang politik Indonesia?
Kalau sudah masuk di dalam pasti ada pengkaderan, kayak kemaren ada beberapa artis yang mendapat pendidikan politik ya.
Apa tidak khawatir dengan banyaknya artis tersebut, image partai malah menjadi rusak? Seperti di cap hanya menjual popularitas artis tersebut?
Saya kira itu kembali ke masyarakat. Ibaratnya kami kan yang jualan, mereka yang memilih sendiri. Kami sudah memprediksikan tapi yang diharapkan adalah dampak positifnya yang kita harapkan.
Apakah Visi misi Anda sendiri setelah terpilih nanti? Adakah membawa sebuah misi khusus untuk perempuan?
Pasti, Insyaallah. Perempuan pasti akan kita bawa. Saya mempunyai 9 misi yang menyangkut pendidikan, kesehatan, gizi, pangan, lingkungan hidup, agama, pariwisata, seni dan pemerintahan. Dalam bidang pangan yang paling mengetahuinya kan perempuan, karena bapak-bapak itu tidak terlalu aware jadi hasilnya kurang detil. dalam bidang kesehatan, Program Keluarga Berencana (KB) kebanyakan sekarang pake tubektomi atau yang lainnya yang kebanyakan dipakaikan pada perempuan terus, padahal itu kan melibatkan kedua belah pihak. Jadi coba dong lebih galakkan lagi kondom. Apalagi yang diberikan pada perempuan itu mempunyai efek yang kurang bagus ya. Kalau dalam pendidikan ya setidaknya keberpihakan pada perempuan. Masih banyak keluarga yang lebih mengutamakan anak laki-laki untuk sekolah, tidak peduli seberapa cerdasnya anak yang perempuan. Walaupun perempuan itu kelak menjadi ibu rumah tangga, tapi pendidikan kepada anak yang diberikan oleh ibu yang berpendidikan akan sangat berbeda hasilnya dengan anak yang dididi oleh ibu yang tidak berpendidikan. Jadi ini juga berpengaruh pada pencetakkan generasi ke depan.
Bagaimana Anda melihat kinerja Megawati saat menjadi Presiden RI dulu? Karena secara tidak langsung kita melihat kepemimpinan seorang wanita dari masa pemerintahan dia.
Kalau saya melihat setiap perempuan punya keunikan dan ke-khas-an tersendiri ya. Jadi tidak bisa hanya melihat satu contoh dan memukul rata seluruh perempuan seperti itu. seperti misalnya pada zaman kepemimpinan Bung Karno ya, kita kan tidak juga langsung mengeneralisasi kinerja seluruh laki-laki seperti dia kan. Begitu juga dengan Megawati ini, tidak bisa seluruh wanita disamakan dengannya.
Tapi kan setidaknya yang terpilih pada saat itu, adalah yang lebih baik dari kandidat yang lain.
Jadi mungkin pada saat itu mungkin yang dikampanyekannya adalah beliau masih ada trah dari Bung Karno, dan dukungan politiknya kuat sehingga dia mendapat akses atau kemudahan daripada perempuan-perempuan yang lain. Itulah yang saya tekankan lagi, sangat banyak wanita-wanita Indonesia yang berkualitas dan berpotensi namun sering tidak mendapatkan kesempatan, sehingga mereka tidak bisa menampakkan diri mereka.
Mengapa sejauh ini yang lebih vokal adalah laki-laki?
Karena kita kekurangan suara perempuan. Hal ini disebabkan pertama adalah recruitment dari partai sangat tergesa-gesa, jadi mereka tidak sempat mencari yang berkualitas. Banyak lulusan hukum atau yang kredibel di bidang politik namun apakan mereka mau menjadi caleg, kebanyakan sudah menjadi pegawai negri. Sedangkan pegawai negri tidak boleh ikutan. Yang kedua pengkaderan yang nyaris tidak ada, jadi mereka tidak mendapatkan penjelasan yang jelas. Selain itu KKN nya juga masih tinggi, misalnya saya pernah ditugasi ke daerah, mereka cenderung memasukka istrinya, saudaranya, anaknya, adiknya. Jadi bagaimana wanita-wanita lain yang lebih qualified tidak mendapat kesempatan. Menjadi caleg itu agak gamebling jadi perempuan banyak yang kurang berani mengambil resiko.
Apa yang membuat seorang Sitti Hikmawatty pantas menjadi perwakilan wanita dalam badan DPR RI?
Iya dong kita kan berkualitas (tertawa). Paling tidak secara kualitas saya memenuhi, dalam berorganisasi saya sudah memulai dari dulu sekali, tidak hanya setahun dua tahun, jaringan, kredibilitas, selain itu saya perempuan, dan saya satu-satunya perempuan dari delapan calon. Jadi semoga saya bisa membawa perubahan yang berarti ya.
Menyangkut wanita Indonesia sendiri, menurut Anda, bagaimana karakteristik wanita Indonesia saat ini?mengapa mereka terkesan jauh tertinggal di belakang laki-laki?
Pertama karena Indonesia menganut sistem patriarki, dimana lebih berpihak pada laki-laki. Padahal dalam konsep kepemimpinan begini, tidak berlaku konsep imamah, karena ini kolegial, melibatkan orang banyak. Mayoritas wanita Indonesia ini tidak percaya diri. Mereka kurang yakin pada diri mereka, semua menganggap negara berat lebih baik, sehingga mereka kurang tangguh. Jadi saat ini bagaimana membangkitkan kepercayaan diri mereka, namun tidak berarti seperti perang dengan laki-laki. Siang butuh malam, malam butuh siang, jadi kita ini setara.